Selasa, 14 Juni 2016

Pergilah Senja, Karena Pilihan yang Kupunya Hanya Melupakanmu

Kalau pada akhirnya aku harus memilih, lalu pilihan apa yang ku pillih? Apakah melupakanmu adalah satu-satunya pilihan yang ku punya? Lalu untuk apa adanya kata pilihan sedangkah alternatif yang kumiliki hanya MELUPAKANMU? Benarkah tak ada pilihan lain? Seperti, mengulang semuanya? Atau kau kembali padaku? Atau apalah. :’( kenapa aku hanya punya pilihan, MELUPAKAN? Kau tau bukan aku bukan orang yang handal melupakan. Aku adalah pengingat yang hebat, aku terus mengingat apa yang telah terjadi, bahkan hal kecil yang kita lalui. Aku ingat semua. Jadi berilah aku pilihan yang lainnya, selain MELUPAKAN.
Aku ingat setiap detik yang kita lewati. Aku ingat waktunya, aku ingat tempatnya. Aku ingat tiap ekspresi wajahmu. Yang kulupakan sekarang adalah suaramu. Ya, aku lupa bagaimana dulu suara mu meneduhkan tiap hembus nafasku. Seperti dulu, saat aku tak pernah ingin malam cepat berlalu ketika suaramu menemaniku menjemput mimpi. Aku ingin kemudian mengingat suaramu, tapi tak ada cela untukku, aku telah melupakan suara yang dahulu terus membuatku damai. Yah, aku salah. Aku ternyata tak sehandal apa yang ku katakan :’)
Kamuku, akhir-akhir ini aku lebih sering mengingatmu dengan sebutan kamuku. Karena sesungguhnya aku ingin belajar, untuk tak mengingat lagi. Mungkin aku akan melupakan dari hal terbesar, yaitu namamu. Walau itu hal bodoh, dan tak kan pernah ku bisa. Tapi apa salahnya? Setidaknya aku jauh lebih lega, tak merasa bergetar setiap kali ku sebut namamu. Dan dunia tak akan tau, kalau kamuku adalah kamu.
Entahlah, tapi aku lebih sering mengingatmu akhir-akhir ini. Tiap hujan, aku ingat. Tiap malam, aku ingat. Tiap jalan yang kulalui, aku ingat. Aku ingat semua hingga tak ada yang sempat aku lupa. Rasanya gila, tiap kali aku seolah memutar rekam ulang kejadian yang pernah ada. Kau tak tau rasanya? Rasanya seperti sesak di bagian dada tiba-tiba. Aku hanya bisa melukis bayanganmu, tanpa pernah bisa menatapmu (LAGI).
Oh iya, akhir-akhir ini pula aku lebih sering memutar lagu-lagumu. Lagu-lagumu? Iya, lagu-lagu yang dulunya kau nyanyikan sepenuh hati. Aku bahkan tak pernah mampu berkata-kata tiap kali kau nyanyikan lirik itu penuh arti. Kau ingat? Aku pernah semalaman mendengarkan lirik itu terdengar jauh lebih indah saat kau yang menyanyikannya. Seperti lagu baru yang aku dengarkan. Seperti kau yang ciptakan.
Kau ingat? Malam panjang kita lalui seolah tak ada tetangga yang akan marah dengan bisingnya gelak tawa kita. Kau sendiri bahkan bilang, merekalah yang mengganggu malam kita bukan kita yang mengganggu mereka. Kau tau? Betapa istimewanya aku ketika itu kau buat. Di tengah teman-temanmu, bahkan kau sedikit pun tak malu ketika harus menadakan lirik itu untukku. Dengan sepenuh hati, dengan suara termanis yang pernah ku dengar, kau membuatku tersipu. Bukan hanya itu, bukankah kau pula yang mintaku untuk menyanyikan bait demi bait lirik untukmu? Kau tau keterbatasan suaraku, tapi sama sekali kau tak terganggu. Kau malah memujiku dan mendengarkannya dengan sangat menikmati. Kau adalah orang pertama yang membuat aku seistimewa itu.
Huft, sudahlah.. Kenapa aku jadi kembali mengingat semuanya? Bukannya aku ingin belajar melupakan itu? Iya, aku ingin belajar melupakannya. Aku ingin belajar membenci lirik-lirik  yang pernah ada. Aku bahkan sudah bisa melupakan suaramu. Bukankah itu baik untukmu? Iya, untukmu. Karena aku tak akan mengingatmu, kau akan menjadi bahagia bukan? Aku telah melupakan warna suara terindah yang pernah ku dengarkan. Aku telah melupakan bisik termanis yang pernah ku dengarkan. Aku telah bisa melupakan suara manjamu. Aku melupakanmu J bukan, aku telah berhasil melupakan suaramu.
Baiklah, sekarang aku pula telah membenci lirik demi lirik yang pernah kau nadakan. Terlalu banyak lirik, hingga aku perlu waktu yang lama untuk membenci semuanya. Aku, selalu mendengarkan lirik itu di bangun dan tidurku. Dan sekarang, aku mulai membenci lirik terindah darimu. “putri, kepergianku tak akan lama tahan rindumu.” Kau bohong bukan ketika menyanyikannya? Kau bahkan sebut namaku dengan sepenuh hatimu, tapi kau pergi hingga kini tak kembali. Aku membenci lirik ini, aku benci dengan nadanya. Ini adalah lirik terbullshit  yang pernah ku dengar, Sekarang.
“Bila kau rindukan aku putri, coba kau pandangi langit malam ini.” Apa? Apa yang aku dapatkan dari memandang langit malam? Aku terus memandangi malam hingga larut. Aku terus memandang bulan dan bintang bahkan aku hapalkan garis-garis bintang yang berubah di tiap malamnya. Tiap itu pula aku semakin merindukanmu, tapi kau tak jua datang atau sekedar bertanya kabar. Kau bohong bukan ketika menyanyikan itu? Kau bahkan menyebut namaku dengan sepenuh hati ketika menyanyikan itu, tapi sekarang rasanya kaulah yang membuat lirik itu menjadi menjijikkan. Kau buat semua nada terdengar dusta.
“Bila itu tak cukup mengganti, cobalah kau hirup, udara pagi. Aku disitu.” Dimana? Kau dimana? Aku sering menghabiskan pagiku menyambut mentari sembari menunggumu. Benar, aku merasakan kau terasa dekat disampingku ketika itu. Tapi aku hanya bisa merasakanmu saja, tepatnya bayangmu. Aku tak pernah lagi bisa merasakan hangat tatapmu. Bahkan siluetmu saja aku tak bisa merasakannya. Hanya bayangmu, entah itu kau atau kamuku yang lain. Kau tak ada di pagi hari. Kau tak ada di tiap udara pagi. Kau tak ada di mentari yang ku sambut. Kau benar-benar telah pergi. Kau membuat lirik seindah itu menjadi tak berarti sama-sekali. Kau bohong bukan ketika menyanyikan itu? Kau bahkan sudah tak menyebut namaku lagi di lirik ini.
“putri, jangan menangis.” Lirik terakhir yang kau nadakan untukku yang sekarang terdengar dusta. Aku membencinya. Kau bohong bukan ketika menyanyikannya? Kau  bahkan menyebut namaku dengan sepenuh hati, tapi kau lah hati yang membuatku menangis. Aku membenci liriknya, juga nadanya.
Aku mulai membenci lirik-lirik yang dahulu begitu kusuka. Ini baik bukan? Aku akan melupakanmu sedikit demi sedikit. Aku tak bisa memaksamu untuk pergi begitu saja, aku akan mulai melupakan hal-hal besar. Dengan begitu, aku akan mudah melupakan hal-hal kecil.
Sekarang kau lepas. Pergilah jika kau benar ingin pergi. Aku hanya pula 1 pilihan, MELUPAKANMU. Aku tak punya banyak pilihan untuk ku pilih. Maka dari itu, pergilah. Aku akan membencimu sedikit demi sedikit. Aku akan membenci lirik-lirik dan akan melupakannya. Seperti aku belajar melupakan namamu, juga suaramu, kemudian membenci lirik terindah darimu, juga nanti kata cintamu. Pergilah senja, cari bahagiamu.

1 komentar:

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name

    BalasHapus